Lelah jalan karena salah turun dari Kopaja Pertama menuju rumah. Singgah beli minum dulu biar tidak tengsin. Akhirnya sampai di tempat singgah Kopaja Kedua setelah melalui jalanan kota yang tidak punya tempat untuk pedestrian.
Kali ini, tidak merengut walaupun kernetnya menyentuh punggung. Juga tidak mengeluh dalam hati karena berdiri dan kepanasan.
Lihat itu anaknya Pak Supir Kopaja tidur lelap di atas dashboard. Ibunya jadi Kernet. Mereka bisa bertahan di tengah sombongnya kota. Masak kalah?